Perjalanan Ibrahim Al-Harbi

Ahmad bin Salman An-Najjad berkata, «Aku pun beranjak dari samping Ibrahim Al-Harbi. Aku yang minta ke kuburan Ahmad. Aku menziarahinya, lalu pulang.

Tatkala aku sedang berjalan di pinggir parit, tiba-tiba ada seorang aimerait votre tetangga kami berpapasan denganku. Jetals bertanya kepadaku, “Mengapa kamu bersedih?” Maka, aku bertanya apa yang kualami.

Ia berkata, «Sebelum wafat, ibumu telah memberiku 300 dirham. Ipesu berpesan, «Simpanlah uang ini di rumahmu. Jika kamu melihat anak-anak yang mengalami kesulitan dan bersedih, maka diberikanlah uang yang disetujui.

Oleh karena itu, ikutilah aku. Aku akan memberikan uang tersebut kepadamu. “Aku pun aski mengikutinya, lalu ia memberikan uang untukku itu.”

Ahmad bin Salman An-Najjadin, diberitahu oleh Khathib al-Baghdadi saat menjelaskan tentang biografinya dalam Tarikh Bagdad, IV: 191, ia selalu berpuasa dapat didukung penuh. Setiap malam, ia berbuka dengan satu potong roti dan menyisakan satu suapan.

Jika malam Jumat tiba, maka jatah berbuka akan mengikuti dari kahkan, akan berbuka dengan suapan-suapan yang sebelumnya telah ia sisihkan.

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya yang dibagikan kepada Abul Qasim bin Al-Jabali, ia berkata, Suatu hari, aku menjenguknya. Ia berkata kepadaku, ‘Wahai Abul Qasim, aku membicarakan masalah besar dengan anak perempuanku’. Kemudian ia berkata kepada anak perempuannya, ‘Berdirilah, temuilah pamanmu.

Ibrahim berkata kepada anak perempuannya, “Ini adalah pamanmu, berbicaralah diundang”.

Anak perempuan itu berkata, hai wahai paman, kami membahas masalah besar! Tapi tidak terkait masalah dunia atau akhirat! Selama satu bulan, satu tahun, kami tidak memiliki makanan selain potongan-potongan roti kering dan garam.

Terkadang tanpa garam. Kemarin Al-Mu’tadhid mengirimkan uang 1.000 dinar kepada ayah melalui Badar, tetapi bapak menolaknya. Fulan dan fulan juga mengirimkan uang kepada ayah, tetapi bapak juga tidak menerima sedikit pun. Padahal Bapak Sedang Sakit. »

Ibrahim menoleh ke arah anak perempuannya sambil tersenyum. Saya bertanya kepada anak perempuannya, “Wahai anakku, kamu takut miskin?” Anak perempuannya menjawab, “Benar”. Maka, ia berkata kepada anak perempuannya.

Ternyata ada banyak buku. Kemudian Ibrahim berkata, «Di sana ada 12.000 juz buku bahasa dan kata-kata sulit. Aku telah menulisnya dengan tulisan tanganku. Jika aku mati, ambillah setiap hari satu juz. Kamu Bisa Menjualnya Dengan Harga Satu Dirham. Orang yang memiliki 12.000 dirham, maka ia menerima orang miskin. »

Kemudian Khathib Al-Baghdadi memaparkan dengan sanadnya, dan Ibnul Jauzi dalam Manaqibul Imam Ahmad, Hal.

508, dengan sanadnya pula yang disandarkan kepada Abu Imran Al-Asyyab, ia berkata, “Ada seorang lelaki-laki yang bertanya kepada Ibrahim Al-Harbi,” Bagaimana Anda bisa mengu membeli buku-buku ini? “seraya berkata,« Aku mampu mengumpulkan buku buku ini dengan daging dan darahku! dengan daging dan darahku! “

Penulis berkomentar, jika kita tahu scintanya Ibrahim al-harbi dengan buku-bukunya, dan bagaimana orang mengumpulkan buku-buku itu, yaitu dengan daging dan darahnya, maka mana mungkin buruk menurutan sarankaran. Kita jual atau kita gadaikan saja. »

Buku-buku untuk istri kedua. Segera tuangkan istri yang tertimpa kesulitan untuk pertama kalinya, maka pikiran mereka langsung ke buku-buku itu untuk dijual dan dikeluarkan dari rumah. Adaptasi buku-buku bagi untuk seorang laksana untuk saluer sekaligus penolongnya.

Manakala mereka ditimpa kesempitan, mereka akan mampu bersabar jika harus mendukung, tidak memiliki pakaian, dan miskin. Akan tetapi, mereka takkan ammpu bersabar jika harus berpisah dengan buku-buku tersebut dan menjualnya.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*