Kebudayaan Pulau Jawa

Hasil gambar untuk kebudayaan jawa

Sebagai negara besar dengan 17.488 pulau, Indonesia terkenal dengan kekayaan budayanya.

Ini tidak dapat dipisahkan dari banyak suku yang hidup di Indonesia, dengan lebih dari 250 suku. Selain itu, fakta bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan berkontribusi terhadap perbedaan budaya antar daerah.

Salah satu suku terbesar di Indonesia adalah suku Jawa. Berdasarkan demografi, suku ini mendiami wilayah Jawa tengah dan timur.

Sebagai suku besar, orang Jawa tentu saja juga memiliki budaya yang hebat, dan mereka telah digunakan secara turun-temurun, dan mereka masih ada sampai sekarang. Budaya macam apa itu?

Berdasarkan kutipan dari toriq.com, berikut ini 6 budaya Jawa yang telah menjadi kebiasaan masyarakat hingga saat ini.

1. Bahasa

Bahasa Jawa memiliki bahasa daerah yang disebut bahasa Jawa. Kebanyakan orang Jawa umumnya menggunakan bahasa Jawa ini lebih banyak daripada mereka menggunakan bahasa nasional, bahasa Indonesia, untuk berbicara.

Bahasa Jawa memiliki aturan yang berbeda untuk intonasi dan kosa kata dengan melihat siapa yang berbicara dan siapa subjeknya. Ini biasa disebut unduhan.

Aturan ini memiliki dampak sosial yang kuat pada budaya Jawa dan secara tidak langsung mampu membentuk kesadaran yang kuat tentang status sosialnya di masyarakat.

Misalnya, di mana pun seseorang dari suku Jawa berada, ia akan tetap menghormati para tetua meskipun ia tidak mengenalnya. Jenis unduhan inilah yang pertama kali dibentuk oleh orang Jawa melalui bahasa yang ideal.

2. Kepercayaan

Sebelumnya, mayoritas orang Jawa memeluk agama Hindu, Budha, dan Kijon sebagai bukti.

Berbeda dengan saat ini, sebagian besar orang Jawa masuk Islam dan minoritas kecil menganut agama Kristen dan Katolik.

Namun, budaya masyarakat Jawa sebelumnya tidak sepenuhnya ditinggalkan karena kepercayaan Jawa, keyakinan yang berasal dari budaya Jawa, masih harus diimplementasikan.

Kepercayaan orang Jawa mengandung seni, budaya, tradisi, ritus, sikap, dan filosofi orang Jawa.

Keyakinan ini biasanya kuat oleh orang tua dan umumnya generasi berikutnya tidak mengikutinya.

Meskipun berbeda pandangan, ini tidak menyebabkan gesekan antara orang tua dan pemuda, bahkan orang muda cenderung menghormati orang tua untuk masalah ini.

3. Filsafat

Juga diketahui bahwa orang Jawa dekat dengan filosofi kehidupan, terutama dengan apa yang dipelajari Sinan Kaliogo.

Dalam kegiatan pengabaran, Sunan Kalijogo sering menggunakan pendekatan tradisional di mana banyak orang Jawa mengikuti ajarannya.

Misalnya, lagu Ilir Elier dan Gondol Bacol Gondola adalah karya-karyanya yang telah dinyalakan secara turun-temurun.

Sunan Kaliogo juga meninggalkan kepercayaan hidup yang ditemukan di Dasa Petutur yang masih menjadi kebiasaan hingga saat ini.

Isi dari filsafat ini kurang lebih, urip uru urup, memayu hayuning bawana ambrasta dur hangkara, surah dira jayaingrat meleleh geng, mencair tanpa penguatan tanpa ngasorake sekti tanpa aji-aji sugih tanpa bandha, dan sebagainya.

4. Seni

Di bidang seni dan budaya, dapat dikatakan bahwa orang Jawa memiliki beragam kekayaan artistik. Setidaknya seni tradisional ini dibagi menjadi 3 kelompok sesuai dengan akar budayanya, yaitu Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah, dan Jawa Jawa (Ludruk dan Reog).

Sedangkan untuk seni musik, orang Jawa memiliki gaya Jawa yang merupakan adaptasi dari musik siput dengan musik tradisional Jawa, khususnya Gamelan.

Selain itu, orang Jawa dibedakan oleh berbagai bentuk tarian dari berbagai daerah, seperti Pampangan Kakil dari Jawa Tengah, Anjuk dari Yogyakarta, IBEJ dari Banyumas, Gandrung dari Banyuwangi, Kirdhaji dari Jabara, Koda Lambag dari Jawa Tengah, Tari Nakal oleh Ponorogo, Tari Remo dari Jawa Timur, Tari Emprak dari Jawa Tengah, Tari Golek Menak dari Yogyakarta, dan Tari Sintren dari Jawa Tengah.

5. Kalender

Salah satu asal budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh suku-suku lain adalah kalender Jawa. Kalender ini adalah kalender yang digunakan oleh Kesultanan Mutram.

Saat Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sultan Agung melakukan tindakan untuk meninggalkan kalender Saka kemudian menggantinya dengan kalender Hijriah dengan modifikasi budaya Jawa. Kalender Jawa terdiri dari campuran budaya Islam, Budha, Hindu, dan Eropa.

Berdasarkan kalender sistem Jawa, siklus harian yang digunakan terdiri dari dua jenis, yang merupakan siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Sabtu, Minggu)

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*